Tampilan luar mobil yang dinamai SV-1 ini terilhami dari mobil konsep Peugeot EX1 yang merupakan salah satu mobil listrik tercepat di dunia. //sumber
Popular Posts
-
1- PORT USB Universal Serial Bus (USB) : Sebuah bus I/O (input/output) yang dapat mentransfer data hingga 12 megabit per detik. S...
-
kali ini gw mw berbagi sedikit tentang hack kecil-kecilan, ya abis kecil file nya.... hehe jangan percaya dulu sebelum membuktikan sendiri....
-
Microsoft Visual Studio 2008 Express editions are free sets of tools that are simple, fun, and easy to learn. They enable developers of ...
Gambar Mobil listrik dari bandung
Tampilan luar mobil yang dinamai SV-1 ini terilhami dari mobil konsep Peugeot EX1 yang merupakan salah satu mobil listrik tercepat di dunia. //sumber
ASAL MULA DESA KALIBANGKANG
Gambar Balai desa kalibangkang
Desa Kalibangkang pada dasarnya tidak mempunyai sejarah terbentuknya desa yang jelas dan ilmiah, karena tidak didukung oleh data-data ilmiah semacam peninggalan-peninggalan yang otentik, prasasti ataupun tulisan-tulisan kuno. Sejarah yang ada hanyalah sepenggal cerita dari orang-orang tua yang saat ini masih “tersisa”, itupun masih bersifat cerita turun temurun.
Kalibangkang berasal dari kata “Kali” dan “Bangkang”. Kali berasal dari bahasa jawa, yang artinya sungai. Tapi kata “kali” di desa Kalibangkang mempunyai arti yang lebih spesifik, yaitu bukan kali yang fungsinya sebagai sarana pembuangan air, akan tetapi kali yang dimaksud adalah “mata air”. Sedangkan “bangkang”, berasal dari nama hewan amphibi sebangsa keong yang biasanya hidup di “kali”. Berdasarkan analisa di atas, jadilah kata “kali” dan “bangkang” tersebut nama sebuah desa, yaitu Kalibangkang.
“Kali” tersebut konon sekarang masih ada, yaitu di Dk. Banteng RT 06 RW 01, tepatnya saat ini sudah berubah ujud menjadi sumur milik Sdr. Samid.
Menilik pada fakta yang ada, ada dua kemungkinan tentang skenario asal-usul terbentuknya desa Kalibangkang. Di antara dua fakta tersebut, ada satu kesepakatan awal, bahwa sebelum Kalibangkang secara administratif menjadi sebuah desa, di wilayah tersebut telah ada penduduknya. Penduduk tersebut kemudian menjadi “nenek moyang” dari warga Kalibangkang di kemudian hari.
1. Skenario Pertama
Nenek moyang warga Kalibangkang dimungkinkan merupakan pelarian dari kerajaan Hindu / Budha terakhir. Mereka beranak pinak dan membentuk komunitas warga yang secara administratif belum membentuk komunitas desa ataupun pedukuhan. Hal itu dikuatkan dengan cerita tentang orang-orang sakti yang bermukim di wilayah tersebut, seperti cerita tentang “Mbah Jenggot” yang seorang pertapa dengan jenggotnya yang panjang dan lebat sehingga sampai untuk “susuh” burung. Cerita tentang “Mbah Mandrakiman” yang dapat “mencipta” petir. Cerita tentang “Mbah Tagati” yang mempunyai daya “linuwih”, dan lain-lain. Mereka adalah para orang-orang sakti (dimungkinkan prajurit pelarian). Mereka adalah para “priyayi” yang hidup bukan dari hasil pertanian, melainkan dari hasil “upeti” atas warganya yang membutuhkan pertolongan. Pada zamannya, tidak ada yang namanya Kepala Desa, akan tetapi para priyayi tersebut ditokohkan dan diikuti segala titah-titahnya.
2. Skenario Kedua
Nenek moyang warga Kalibangkang merupakan pendatang dari daerah Puring. Mereka datang ke Kalibangkang untuk menyebarkan agama Islam. Pada saat mereka datang, di wilayah Kalibangkang telah ada penduduknya, yaitu mereka yang masuk pada Skenario Pertama. Karena mereka adalah “Pendakwah”, meraka juga masuk golongan priyayi dan hidup bukan dari hasil pertanian, melainkan dari hasil “zakat” para pengikutnya.
Baik skenario pertama maupun kedua, secara faktual dapat dilihat pada kenyataan saat ini, bahwa :
a. Desa Kalibangkang sama sekali tidak mempunyai bengkok maupun tanah bondo deso peninggalan para pendahulu serta secara administratif sama sekali tidak mempunyai kekuasaan atas hutan. Hal itu dimungkinkan karena nenek moyang warga desa Kalibangkang adalah “orang pintar” dan “pendakwah” sehingga mereka tidak memikirkan pertanian dan pada gilirannya tidak mempunyai kekuasaan atas tanah.
b. Desa Kalibangkang sejak dahulu dikenal sebagai desa yang dikenal mempunyai “orang pintar”, hal itu merupakan regenerasi dari Skenario Pertama.
c. Desa Kalibangkang sejak dahulu dikenal sebagai desa yang Islami, hal itu merupakan regenerasi dari Skenario Kedua.
3. Kongklusi
Pendatang dari daerah Puring itu adalah “Mbah H. Tohir” atau terkenal dengan “Mbah Jigar”. Mbah Jigar di samping seorang ahli agama (Islam), juga kemudian membentuk wilayah administratif desa yang kemudian disebut desa Kalibangkang. Awal terbentuknya desa Kalibangkang, konon pada saat itu baru ada 40 rumah (sekarang sekitar 860 rumah). Dia kemudian juga menjadi Kepala Desa Kalibangkang yang pertama. Tidak ada catatan maupun cerita yang jelas, tahun berapa Mbah Jigar itu memerintah desa Kalibangkang.
Berdasarkan fakta yang ada, dari dua skenario legenda desa Kalibangkang telah membentuk dua garis generasi, yaitu generasi pra Mbah Jigar dan generasi Mbah Jigar. Bertahun-tahun kemudian, keturunan Mbah Jigar tersebar luas di desa-desa Kecamatan Ayah, dan daerah-daerah lain di wilayah Indonesia, dan bahkan ada sebagian kecil yang membentuk komunitas di Malaysia. Saat ini di Kalibangkang ada dua komunitas warga, yaitu yang merupakan keturunan langsung dari Skenario Pertama dan yang keturunan langsung dari Skenario Kedua (Mbah Jigar).



